Dengan ditandatanganinya perjanjian General Agreement on Tariffs and Trade (GATT), World Trade Organization (WTO), Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) oleh Pemerintah Indonesia, merupakan peluang sekaligus tantangan bagi arsitek yang akan bebas masuk ke Indonesia dan turut bersaing dalam berbagai industri jasa konstruksi di Indonesia. Undang-undang no. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi UUJK bagi arsitek sendiri memiliki tujuan; (1) memberikan arah pertumbuhan dan perkembangan bagi arsitek dalam mewujudkan jasa arsitek yang kokoh, andal, berdaya saing tinggi, dan hasil karya yang berkualitas, (2) mewujudkan tertib penyelenggaraan jasa arsitek yang menjamin kesetaraan kedudukan arsitek dan masyarakat dalam hak dan kewajiban, serta meningkatkan kepatuhan pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, (3) mewujudkan peningkatan peran masyarakat dibidang jasa arsitek.
Komitmen  Indonesia untuk berpartisipasi dalam pasar bebas industri konstruksi 2020, pada akhirnya akan membuka pasar nasional bagi tenaga kerja asing dan sebaliknya membuka peluang kerja bagi tenaga kerja Indonesia untuk berperan di pasar regional dan Internasional, para arsitek asing tentunya bertambah banyak melakukan praktek di Indonesia, sehingga akan semakin banyak proyek arsitek yang dipercayakan untuk dikerjakan oleh arsitek asing. 
Mutual Recognition Agreement (MRA) juga mengarah kepada perdagangan bebas bagi arsitek, yang merupakan fasilitas atau bentuk akhir dari mata rantai/proses perdagangan internasional dimana tercapai suatu kesepakatan antar negara untuk saling mengakui dan saling bekerjasama dalam bidang-bidang yang telah disepakati,salah satu isinya adalah kelulusan program sertifikasi yang telah diakreditasi oleh ASEAN dan di satu negara hanya diakui satu asosiasi profesi, tentunya di Indonesia adalah Ikatan Arsitek indonesia (IAI).
Profesionalisme-lah yang menjadi tolak ukur dalam ajang global sekarang ini. Arsitek Indonesia tentu saja tidak ingin kalah menghadapi dunia profesi internasional terutama di dalam negeri kita sendiri, untuk itu perlu para arsitek senior maupun calon arsitek yang masih berada di jenjang pendidikan dapat dipersiapkan dengan baik melalui Pendidikan Profesi Arsitek (PPArs) oleh seluruh program studi yang mempunyai jurusan arsitektur serta dengan mengatur standar kompetensi melalui sertifikasi keahlian. Dewasa ini sertifikat keahlian (SKA) arsitek menjadi topik pembicaraan/diskusi dikalangan professional arsitek akibat perannya yang sangat penting dan strategis pada era globalisasi.Tenaga kerja bebas bekerja di negara manapun asalkan dapat memenuhi standar keterampilan/kompetensi yang telah ditetapkan, yang dapat dibuktikan dengan kepemilikan sertifikat keterampilan/kompetensi tersebut.Dengan memiliki sertifikat adalah mendapatkan pengakuan yang resmi terhadap kompetensi dan professional yang dimiliki.
Undang-undang Jasa Konstruksi (UUJK) punmewajibkan arsitekmemiliki sertifikat keahlian (SKA) diharapkan dapat menjamin kompetensi arsitek Indonesia dan dapat bersaing ditingkat global. Dengan diwajibkannya para arsitek memiliki sertifikat keahlian dapat memberikan beberapa manfaat bagi arsitek, masyarakat dan pemilik modal/owner.Pasar konstruksi nasional dan pasar konstruksi global membutuhkan arsitek dengan berbagai tingkat kompetensi dalam jumlah yang tertentu.Untuk meningkatkan daya saing Industri jasa konstruksi khususnya arsitek,pemerintah mengamanatkan kewajiban bagi arsitek untuk memiliki sertifikat.Perkembangan secara global menunjukkan bahwa semakin dibutuhkannya keahlian profesional sesuai dengan kode etik yang telah disepakati bersama.Meningkatnya tuntutan masyarakat atas kebutuhan keahlian profesional dan sikap profesional diharapkan berkembang sesuai dengan perkembangan dunia arsitektur dan keinginan dari masyarakat sehingga diperlukan sumber daya manusia yang memiliki ketangguhan daya saing dan kualitas yang tinggi menuju profesionalisme arsitek.
Sertifikasi adalah pengakuan tingkat kompetensi seorang arsitek didalam menjalankan keahliannya, ditingkat nasional maupun internasional.Profesi arsitekmencakup bagaimana merancang sesuatu yang dapat digunakan dengan baik oleh manusia namun tetap indah dipandang secara visual.Hal tersebut di atas menandakan bahwa seorang arsitek harus mempelajari ranah yang cukup luas untuk menguasai berbagai macam kemampuan yang berkaitan dengan pemenuhan tuntutan terhadap dirinya dalam perjalanannya menuju profesi arsitektur, meski kemudian harus melintasi dan berdiri di atas batas antara ilmu seni dan ilmu sains.Di dunia yang semakin terbuka dan saling tergantung seperti saat ini, praktis profesi arsitekdi Indonesia tidak bisa lepas dari pengaruh sistem atau tertib profesi negara-negara lain.Barangkali Indonesia termasuk negara terbelakang dalam hal tertib profesi arsitek salah satu penyebabnya adalahUndang-undang keprofesian arsitek  belum kita miliki, dan sampai saat ini masih pembahasan dikalangan dewan. Pembahasan paper kali ini kita akan melihat manfaat dan perananannyaProfessional Certificationdalam menciptakan profesi arsitek menuju profesionalismenya diera globalisasi sekarang ini.

 

Download