Globalisasi saat ini terjadi di seluruh dunia tanpa terkecuali. Yang membedakan hanyalah kecepatan perubahan-perubahan yang terjadi pada elemen dan norma-norma lokal dan hasilan dari pengaruhnya. Globalisasi tidak menyisakan satu bidang pun tidak tersentuh, termasuk didalamnya budaya dan arsitektur yang juga didorong untuk terus berkembang dan berubah menyesuaikan perkembangan zaman. Perubahan dan perkembangan pemikiran-pemikiran yang berselaras dengan globalisasi menimbulkan keresahan pergeseran dan dilusi nilai-nilai budaya yang mengarah pada krisis identitas budaya, tidak hanya lokal namun nasional.

Tidak terkecuali di Bali, globalisasi mengakibatkan berbagai perkembangan yang terkadang tidak dapat diprediksi. Terlebih Bali sebagai salah satu daerah tujuan wisata penting Internasional yang dikenal memiliki wujud fisik budaya yang bertumpu pada adat istiadat dan religi masyarakat sebagai daya tarik utama pariwisata. Hal ini mengakibatkan pengaruh budaya global masuk dengan derasnya dan tidak terbendung. Merupakan suatu hal yang sangat disayangkan jika budaya global diserap tanpa disaring dan dipilah terlebih dahulu dan secara langsung mengintervensi pola dan norma budaya lokal yang berdampak pada tergerusnya identitas/lokalitas Bali.

Pemerintah Propinsi Bali menerapkan pariwisata budaya sebagai upaya untuk mempertahankan dan menyelamatkan Budaya Lokal Bali. Lokalitas Bali dan nilai-nilai luhur yang tertuang dalam berbagai bentuk-bentuk fisik dalam Arsitektur Tradisional Bali merupakan salah satu identitas yang tidak dipungkiri juga tidak luput dari perkembangan jaman. Arsitektur Tradisional Bali harus menyesuaikan dirinya dengan jaman dan kebutuhan yang kian kompleks dan mengharuskan Arsitektur Tradisional Bali untuk bergerak dengan mengkaji kembali nilai-nilai luhur budaya dan menghasilkan Arsitektur Bali Kekinian yang kental akan identitas Bali sekaligus adaptif terhadap berbagai kepentingan zaman.

Berbekalkan semangat membantu pergerakan Arsitektur Bali menjadi kekinian, IAI Bali bersama PT. Jimbaran Hijau sebagai pengembang kawasan berinisiatif untuk mengadakan Sayembara Gagasan Kawasan Pusat Seni dan Budaya di Jimbaran yang akan mewadahi berbagai fungsi, antara lain museum; galeri; pusat pertunjukan budaya; fasilitas pendidikan budaya; kesenian; pasar seni dan ruang seni; serta permukiman seniman.

Sayembara yang berhadiah total Rp. 135 juta tersebut diluncurkan pada tanggal 12 Agustus 2016 di Taman Bhagawan, Benoa, Bali oleh Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Bpk. Ahmad Djuhara IAI juga dihadiri anggota Dewan Juri yang terdiri dari unsur praktisi Arsitek, akademisi, budayawan, Green Building Council of Indonesia dan PHRI antara lain, Dr. Ir. Frans B. Siswanto, MM. dan Prof. Dr. Ir. Sulistyawati, M.S., MM., M.Mis., D.Th. yang keduanya merupakan penggagas sayembara, Arsitek Popo Danes – IAI Balinese Architect, - Arsitek Ir. Ketut Gede Astian Supatra,IAI – Building & Architecture Committee Reviewer for Bali Region (TABG), Prof. Dr. Ir. I Wayan Runa, MT., IAI, AA – Deputy Chair IAI Bali, Dr. Ir. Tjok Oka Ardhana Sukawati, MSi. (Cok Aca) – Chair PHRI Bali, Guruh Soekarnoputra – Seniman dan Pelaku Budaya, Naning S. Adiningsih Adiwoso, GP – Chair GBCI, dan DK Halim, PhD sebagai dewan juri beserta pengurus IAI Bali dan IAI Nasional.

“Sangat diharapkan gagasan-gagasan kreatif dari peserta yang dapat membawa dan memberikan pergerakan bagi desain arsitektur Bali yang akomodatif dan kental akan nilai-nilai budaya Bali sebagai Arsitektur Bali Kekinian” ujar DK Halim, yang juga merupakan Direktur Perencanaan & Desain PT. Jimbaran hijau. Ia juga menambahkan bahwa kendati sayembara tersebut hanya sampai tahap gagasan, namun tidak menutup kemungkinan untuk dapat diwujudkan konstruksinya. Tentu saja bila akan dilaksanakan, pemenang diwajibkan untuk turut terlibat dalam pengembangan desain dan konstruksi sebagai arsitek professional.

Pengumuman pemenang dan penyerahan penghargaan akan dilakukan bertepatan dengan moment IAI Bali Award yang rencananya akan diselenggarakan pada tanggal 26 November 2016.


 

Design on Art & Cultural Center – Design Competition for Bali Today & Future launched in Taman Begawan

Globalization happens in all over the world without any exception. Differ in speed, it evolve; change; scrape every local elements & norms, culture & architecture inclusively pushed to adapt & change as the era goes flow. Shift & evolution in perspective of thinking which align through globalization causing unrest & dilution of shifted local value that leads to identity crisis, not mentioning locally but also national scale.

Globalization in Bali has cause unpredictable matter. Bali as one of main International tourism destination in Indonesia has been known for it social culture & physical form of Bali Culture which based on local manners & religion as charm to tourist. Globalization effect greatly come in without any filter & unstoppable. Which are very unfortunates, if globalization would cause intervention to Balinese cultural that could not just shifting but worse - eroding the culture through its roots.

Government of Bali Province applying culture tourism as steps to defends Balinese Local Culture. Bali genius locality & local value which forming to physical traditional Balinese Architecture is one of the identity of Bali which can’t be naive that affected by globalization. It have to adapt trough time & era also needs complexity which require Balinese architecture to evolve by reviewing & re-understanding every single every Balinese cultural value to its root in order to set Balinese Architecture to another level, thicker & very Bali more than ever.

Realize by these circumstances Indonesian Institute of Architect Bali Chapter & PT. Jimbaran Hijau held Design Idea Competition. Design on Art & Culture Center is an idea competition which should be able to accommodate many functions on single site such as museum, gallery, art performance center, cultural education, art space, artist residence, etc.

This 135 million Rupiahs Total prize Competition for the winners was launched on August 12th 2016 at Taman Bahgawan – Benoa – Bali by President of Indonesian Institute of Architect Mr. Ahmad Djuhara, attended by the Juror from architect practitioners, academics, humanist, green building council of Indonesia, Indonesian Institute of Architects board-men & Hotel and Restaurants associations. The Juror will be Dr. Ir. Frans B. Siswanto, MM. & Prof. Dr. Ir. Sulistyawati, M.S., MM., M.Mis., D.Th. (both also initiator of this competition), Architect Popo Danes – IAI Balinese Architect, - Arsitek Ir. Ketut Gede Astian Supatra,IAI – Building & Architecture Committee Reviewer for Denpasar Region (TABG), Prof. Dr. Ir. I Wayan Runa, MT., IAI, AA – Deputy Chair IAI Bali, Dr. Ir. Tjok Oka Ardhana Sukawati, MSi. – Chair PHRI Bali, Guruh Soekarnoputra – Famous Artist & Humanist, Naning S. Adiningsih Adiwoso, GP – Chair GBCI, dan DK Halim, PhD - Jimbaran Hijau Planning & Design Director.

DK Halim said “Creative ideas should be required to help Bali move any architecture design in the future, of course it should be accommodative & ‘very Bali’ as Contemporary Balinese Architecture”. He also add that even this competition limited only for idea phase, there are still possibility that the idea to be constructed, of course the winner or the architects should be professionally involved in design & construction phase.

Winner announcement & inauguration will be held in IAI Bali Award Night on November 26th 2016 which will be attended by IAI Bali Award winners, finest Architects, International Delegates, & business owners.